Menu

18 April 2026 redaksi@saudagarmuslim.news
Ketaqwaan, Kearifan dan Kewirausahaan
Opini

Ramadhan dan Keadilan Ekonomi

HM Yasin Azis 29 Maret 2026 7 kali dibaca
Ramadhan dan Keadilan Ekonomi

Oleh: M Yasin Azis, Ketua Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Sulsel

SaudagarMuslim.news -- Lebih awal saya ingin mengingatkan diri dan kita semua fenomena nanti di akhir Ramadhan persiapan menyambut hari raya, ada sebuah realitas pahit yang sering kali tersembunyi di balik angka-angka pertumbuhan perusahaan: keringat buruh dan tagihan vendor yang tak kunjung cair.

Bagi banyak pelaku usaha, menunda pembayaran hak pihak lain sering dianggap sebagai strategi menjaga arus kas (cash flow). Namun, dalam timbangan moral dan syariat, tindakan ini bukan sekadar masalah administrasi keuangan, melainkan sebuah bentuk kezaliman sistemik yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan. ​

Ramadhan datang untuk mematikan ego kita dan menghidupkan rasa empati. Esensi puasa yang mengajarkan kita merasakan perihnya lapar seharusnya membuka mata para pemimpin bisnis terhadap dapur karyawannya yang mungkin terancam tidak mengepul. Syariat Islam memberikan teguran yang sangat tajam dalam urusan ini.

Rasulullah SAW bersabda: "Berikanlah kepada pekerja upahnya sebelum kering keringatnya" (HR. Ibnu Majah). Pesan ini adalah perintah tentang kecepatan, ketepatan, dan penghormatan terhadap martabat manusia yang telah mendedikasikan waktu serta tenaganya. ​

Menunda hak orang lain saat kita memiliki kemampuan untuk membayarnya dikategorikan sebagai perbuatan zalim. Dalam perspektif ekonomi syariah, keberkahan sebuah bisnis tidak diukur dari seberapa besar saldo yang mengendap di bank, tetapi dari seberapa bersih harta tersebut dari hak-hak orang lain.

Seorang pebisnis yang berpuasa seharusnya memiliki sensitivitas spiritual yang tinggi; ia akan merasa tidak tenang menikmati hidangan berbuka yang mewah sementara ia tahu ada vendor kecil atau karyawan yang sedang kebingungan menanti pembayaran untuk kebutuhan pokok keluarganya.

​Lebih dari itu, melunasi hak tepat waktu adalah bentuk investasi kepercayaan yang paling mahal. Bisnis yang dibangun di atas prinsip keadilan (Adl) akan menciptakan ekosistem yang loyal dan tangguh.

Sebagai seorang saudagar Muslim, spirit Ramadhan mengajak kita pengusaha untuk melakukan "tobat finansial"—mempercepat kewajiban, mempermudah urusan orang lain, dan menyadari bahwa setiap rupiah yang kita tahan tanpa alasan yang benar adalah penghalang bagi turunnya rahmat Allah pada usaha kita.

Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun orang yang bersedih karena haknya terabaikan di tangan kita.(*)

*) Selengkapnya di

Spirit Saudagar - Ramadhan dan Keadilan Ekonomi

Tags:

Bagikan:

HM Yasin Azis

HM Yasin Azis

Ketua ISMI Sulsel

Konten Terkait