Menu

18 April 2026 redaksi@saudagarmuslim.news
Ketaqwaan, Kearifan dan Kewirausahaan
Opini

Konsumsi Islami Kunci untuk Distribusi Keadilan dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Idris Parakasi 29 Maret 2026 14 kali dibaca
Konsumsi Islami Kunci untuk Distribusi Keadilan dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Oleh: H. Idris Parakkasi, Konsultan Ekonomi dan Keuangan Islam

SaudagarMuslim.news -- Di tengah geliat ekonomi modern, konsumsi sering diposisikan sebagai motor utama pertumbuhan. Semakin tinggi konsumsi masyarakat, semakin besar pula aktivitas produksi, investasi, dan perputaran ekonomi. Namun di balik logika tersebut, muncul persoalan yang tidak bisa diabaikan yaitu pertumbuhan yang tidak selalu diiringi pemerataan.

Konsumsi yang meningkat justru sering berjalan beriringan dengan ketimpangan pendapatan, budaya hidup berlebihan, dan meningkatnya utang rumah tangga.

Dalam situasi ini, pertanyaan penting muncul, apakah semua bentuk konsumsi benar-benar membawa manfaat bagi ekonomi secara menyeluruh? Menurut pandangan penulis, persoalan utama bukan terletak pada besarnya konsumsi, melainkan pada pola dan nilai yang mendasarinya.

Di sinilah konsep konsumsi Islami menawarkan perspektif yang relevan. Konsumsi dalam Islam tidak hanya berorientasi pada kepuasan individu, tetapi juga pada keseimbangan sosial, keberlanjutan ekonomi, dan tanggung jawab moral.

Jika diterapkan secara luas, pola konsumsi Islami berpotensi menjadi pendorong distribusi kekayaan yang lebih adil sekaligus menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil dan berkualitas.

Konsumsi dalam Islam memiliki landasan nilai yang jelas. Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk mengonsumsi sesuatu yang halal dan baik: “Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.” (QS. Al-Baqarah: 168).

Selain itu, Islam juga menegaskan larangan berlebihan, sebagaimana firman Allah Swt; “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Dari dua prinsip dasar ini, terlihat bahwa konsumsi dalam Islam bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi bagian dari etika hidup. Konsumsi diarahkan pada kebutuhan yang wajar, bukan pada keinginan tanpa batas.

Dalam pandangan penulis, prinsip moderasi inilah yang menjadi fondasi penting bagi stabilitas ekonomi jangka panjang. Dalam praktik ekonomi modern, salah satu sumber ketimpangan adalah pola konsumsi kelompok berpendapatan tinggi yang cenderung berfokus pada barang mewah dan impor.(*/sm)

*) Selengkapnya di 

Konsumsi Islami Kunci untuk Distribusi Keadilan..

Tags:

Bagikan:

Idris Parakasi

Idris Parakasi

Pengurus ISMI Sulsel

Konten Terkait